Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

Tuesday, April 5, 2011

damai tanpanya

damai tanpanya

ku kuis
biar pelan-pelan
ia jauh dan menjauh

pada matanya yang sayu
merenung aku, akan tidak aku tenung

enggan ku sahut 
lolongan kesepiannya
sekeping nafasnya 
dulu pernah aku genggam erat

kedalam hitam laut
kulempar nanti

biar tidak lagi ada yang tinggal
enggan juga aku menoleh 
belakang ku

walau aku juga tidak tahu
tapi itu yang aku yakin
aku damai tanpanya



Kay Masingan
5/4/2011


 

Monday, March 14, 2011

piupusan ih aso katatapan

Piupusan ih aso katatapan



Koupusan
Ong yoku ih nokopogulu
sid ginawo nu
rinumamit dot langad om tupus nu
okon ko madko diti
ralan koposion ku
mongindad do iso piupusan
ih aso po katatapan


Tuesday, March 8, 2011

Hati Yang Tertinggal

Untuk dia,

Mungkin masih dia
yang paling layak
menerima sarat rindu ini

yang masih
paling tahu
menjaga hati
yang masih kutinggalkan
dengannya


mungkin esok, lusa
atau nanti saja
akan aku datang
menuntut kembali
hati yang tertinggal
dari dia
yang masih layak
bergelar 
kekasih

Friday, October 15, 2010

Embun Terakhir

Wahai suara-suara tasbih
Panjatlah ke lorong-lorong telingaku
Papak-kan baris-baris ayat
memujiNYA
dan berbisiklah
senandung halwa tidak berpenghujung

gerakkan aku dari lena yang panjang lagi menyesatkan
roh lemah tersasar arah
menerawang ke mana-mana
panggilah dan serulah
kembali dia biar menang
dalam bertarung melawan si penyesat

bangkitlah kemudiannya
bersatu roh dan jasadku
bersujudlah
sebelum dingin embun terakhir jatuh
dari tirus daun-daun hijau.


Kay Abdullah
15/10/2010.

Sunday, October 3, 2010

Melawan Virus Malas

Ada kerja yang berada dalam kategori PENTING &URGENT. Tetapi, hati dan kekuatan serta gimbaran bukan ke arah untuk membuat dan menyiapkan kerja tersebut. Honestly, saya sangat malas pada waktu ini. Menyiapkan 5 buah sajak yang bertemakan bidang Pendidikan, bukan suatu yang mudah. Saya memang suka menulis sajak, tetapi bila terpaksa menulis mengikut suatu tema yang telah ditetapkan, it's not easy. Setiap kata dan ayat perlu berhati-hati agar tidak tersimpang dari tema. Susunan ayat lebih indah jika berdasarkan kepada pengalaman dan pengamatan penulis itu sendiri. Malam tadi saya berjaya menyiapkan  sajak yang ke 3, itupun secara peribadi saya masih belum berpuas hati sepenuhnya. Saya harap saya masih ada kesempatan dan idea untuk memurnikan lagi sajak tersebut  tersebut serta 2 sajak yang seterusnya. Then the last thing that I need to prepare is my presentation slides (which contains the main ideas I am trying to point out in each poem) and present it this coming tuesday in front of other Colleagues, which is i hate the most..:(


Untuk semua itu, saya perlu MELAWAN semua VIRUS-VIRUS KEMALASAN yang tiba-tiba begitu mesra dengan diri dan perasaan.


Bulan sabit di Elopura

Ku pandang pada langit
Di suatu sudut bumi elopura
ternampak aku pada bulan sabit yang suram di sana
Pada bentuknya yang tidak sempurna,
Seakan dapat ku selam malunya

Teringat aku pada anak-anak elopura
Seperti sifatnya si bulan sabit yang belum sempurna
Mereka,
Masih tidur lena dan bermimpi, belum jaga sepenuhnya

Bak si bulan sabit, bertapuk dia dibirai awan malam
Di pipit-pipit sudut rumah
Anak-anak elopura
Berbaring mereka beradu lena
Berbungkus mesra nan selesa si selimut hapak
seakan terantai otot dan jiwa minda mereka
Lalu terlalai mereka pada mimpi indah yang seketika,

Hai anak elopura,
Bangkit lah dari mimpi indah khayalanmu itu
Bebaskan tubuhmu dari dakapan selimut mu yang mesra
Bangun dan berjalanlah
Bukakan lorong-lorong terang di hatimu
Pada terjahan-terjahan ilmu
Jangan takut untuk percaya
Di luar sana
Ada kehidupan yang lebih selesa
Tapi bukan gampang untuk di tuai
Banyak titi kau perlu lalui

Bangunlah! Berlumbalah dengan si bulan sabit

Umpama si bulan sabit menanti musim untuk purnama
begitu kau bangunkan jiwa dan minda mu dengan ilmu
pada kata-kata perkasa untuk bekal hidupmu
bila nanti bulan sabit sudah purnama
kau juga biasa tersenyum bangga,
untuk dirimu dan untuk dia
dan bisa kau berkata dan bercerita padanya
tentang kau dan tentang dia.

Hasil pena asli
Kay Abdullah
2 Oktober 2010


Petang ini, main badminton dengan rakan sekerja. Daripada duduk diam di rumah, idea tidak pandai singgah di minda, baik main. Boleh keluarkan peluh dan virus-virus yang kotor dalam badan. Oh, I forgot to take picture during the game, but will do it next time as we were plan to play  every evening after school..:)

terjemahaan kata (Slang Sabah & Dusun Kimaragang)
Gimbaran- Semangat
Bertapuk - Bersembunyi, berselindung
Pipit-Pipit - tepi 

Wednesday, September 29, 2010

Tika jauh

tika jauh
baru tersedar erti hadirmu


tika jauh
baru terasa derita pedih rindu resah
yang hadir bertamu
pada ruang-ruang antara


tika jauh
baru terasa
dekat itu indah



Kay Masingan
Mei, 2009
Kg. Parong, K. Marudu

Thursday, September 23, 2010

Bicara pada BULAN

Bicara pada BULAN


Ah, baru kini kau muncul
Ditunggu sudah lama, dengan sinar malapmu
Sedang dulu, kau telah tegakkan janji
Untuk ruang hatiku, sentiasa terang pasti sinarmu

Bulan,
Lewat-lewat kini
Tidak seperti kembang perawan malam mekarmu
Dicelah birai-birai awan, kau menumpang
Yang sekali datang, sekali pergi
Mencalit sedikit dan sedikit terang sinarmu
Yang semakin tumpul menyuluh jalan rindu ke sanubariku
Lalu sering kau sesat ke jalan pintu hati yang pernah kau bertaktha
Kenapa kau percaya pada awan?
Pada hatinya yang sepi, kenapa perlu kau peduli?

Bosan pada sang awan
Pada bintang-bintang kecil di sana
Kau bermesra dan bersenandung
Pada taman indahnya kau bertamu
Pada ribanya kau bersinggah
Dan saat kau alunkan irama, melagukan rasa hibamu
Pada tarian gemalainya mengiringi setiap melodi lagu hatimu
Kau makin terpersona
Lalu sedikit dan sedikit kau makin lupa pada aku
Kenapa kau percaya pada bintang?
Tahukah kau, pada sinarmu dia ingin menumpang kasih?

Nyata hatimu tidak pernah kukuh
Sepertimana untaian tali janji yang kau anyam dulu
Makin rapuh simpulannya
Dan setiamu semakin suram, seperti pudar sinarmu

Sedang sang pungguk juga sudah beralih kasih
Galak matanya bukan untukmu lagi
Pada lampu neon yang lagi indah dan setia
Dia bercanda dan berkasih
“Ah, biarlah aku bermadu dengan cengkerik-cengkerik malam
Asal saja aku dekat dengannya”
Seperti  aku mendengar bisik hati sang pungguk

Bulan,
Lalu  apa yang aku harapkan pada mu lagi?
Sedang cahaya mu tiada lagi sehangat dulu
Apa yang aku cari pada yang tiada?


Kay Abdullah
23/09/2010

P/s: Gambar dari Google Image

Wednesday, August 18, 2010

puisi kantoi the contest..

kTiba-tiba tergerak pula mau join contest. Contest ini dianjurkan oleh akumencaricinta (klik image untuk keterangan lanjut) 



Disaat senja makin lewat
Saat malam mula menerjah
Hatiku digamit oleh peluk mu
Terasa bahang mu membalut tubuhku

Waktu sepi malam gelita
tika dingin peneman malam
Kau setia disisiku
Memeluk daku tanpa kurang
Memberi rasa hangat mesra abadi
Menemani mimpi indah ku

Oh KAIN SELIMUT ku
Oh, kecintaanku
Kau lah yang aku rindu
Kau lah yang aku sayang
Yang aku miliki seorang.


Tuesday, August 17, 2010

Nikmat nafasNya

Dan aku masih disini...
kerana nikmat nafas yang ku terima
dari NYA yang menguasai
Aku masih disini,
Melihat, Mendengar, Berkata, Merasa.

Dengan nikmat nafas dari NYA
aku masih mampu melangkah dan berlari
mendongak, tunduk dan masih mampu berpaling
menyesali yang lalu
sebagai pedoman dan pengajaran
untuk meniti titi hidup kini

Dengan nikmat nafas dari NYA
aku masih ada waktu untuk memohon keampunan,
mengucap syukur Alhamdullilah,
menyanyikan zikir-zikir kecintaan pada NYA
walau tidak dapat ku padamkan hitam itu
menjadi putih semula
namun dengan nikmat nafas dari NYA
aku yakin aku masih ada sisa waktu
untuk bermula dari Pertengahan
menuai pahala amalan
untuk ku memberatkan yang Kanan ku
sebagai bekalan di alam Baqa
di padang penghakiman
bila nanti nikmat nafas itu dihentikan oleh NYA


Asli,
Kay Abdullah


I was doing some re-reading on my posts which I've posted on my old blog Cerita Kehidupan, and I found out a very interesting poem of me.:)  I've wrote it, right after I came back from a ceramah agama, about Nikmat-Nikmat Allah at Kelas Agama 3 years ago.

I, personally considered this poem as a VERY SPECIAL one. I wrote it from the bottom of my heart..time tu memang betul-betul insaf..Banyak mesej yang tersembunyi dalam sajak ini. And as the original writer of the poem I am very proud of myself, don't know why, but I think that I deserved to feel that way. (*_*)

Monday, August 16, 2010

Sajak..

Harapan seorang ayah
Kepada seorang cikgu

Dari jalan sempit
Kelikir berselut si tanah merah
Diayunkah langkah kaki penuh tekad
Dengan kudrat tersisa
Seorang ayah tua
Memimpin anak kecilnya
Yang terkekeh-kekeh riang

Nah cikgu, ini anak kecil ku.

Bimbinglah dia.
Bangkitkan rohaninya
Semaikan kecintaanya pada keagungan Sang Pencipta
Pada setiap hela nikmat nafas yang dipinjamkan padanya
Agar dia tahu, dia bukan pemilik mutlak akan dirinya

Bangunkan pohon-pohon emosinya
Putikkan segala perasaan dalam aliran darah tubuhnya
Biar dia sedar, hidup bukan sekecil rumahnya
Nanti,
dia tahu berjuta orang
zarah-zarah udara harus dia berkongsi

Cikgu ,
Jangan juga lupa.
Tolong aku,
Bangunkan segala urat-uratnya yang masih tidur
Kukuhkan dan ketatkan cengkaman sendi-sendinya
biar ada lebih
tenaganya melawan deduri tebasan

kukuhkan untaian fikirannya
yang masih terlalu rapuh di mindanya
penuhkan jiwanya dengan semua ilmu-ilmu
ajarlah dia,setiap langkah dalam kehidupan ini
adanya ironi
ajar dia melengkapi setiap persegi hidupnya
dengan senjata dan perisai terpilih
untuk seorang manusia
yang perlu menjadi manusia

aku mahu dia menjadi manusia
bersifat manusia

kerana aku, ayah tuanya
mungkin tidak selayakknya
memberikan semua itu
secukupnya untuk dia.

 
Asli dari pena,
Kay Abdullah.

Sajak di atas adalah sajak pertama dari lima sajak yang saya perlu hasilkan untuk projek LDP (Latihan Dalam Perkhidmatan) yang wajib kepada semua staff dalam organisasi tempat saya bekerja. Dalam LDP ini terdapat 5 kategori yang boleh dipilih iaitu Kajian Tindakan, PBL (Project Base Learning), Book Review, Penulisan Ilmiah dan juga Penulisan Kreatif. Sajak termasuk dalam kategori Penulisan Kreatif.

Dalam penulisan Kreatif, semua penulisan sama ada cerpen, dairi, dan juga sajak mestilah  bertemakan pendidikan. Ya, bukan mudah. Saya memang sangat suka menulis sajak, walaupun jarang saya kongsikan dalam blog ini, tetapi bila perlu menulis mengikut suatu tema yang tertentu, saya sendiri mengeluh dan untuk menghasilkan sajak di atas saya telah mengambil masa hampir seminggu untuk menyiapkannya. Tambah-tambah susah lagi, saya bukannya guru Bahasa Melayu ataupun Kesusasteraan Melayu. Tapi, cabaran perlulah disahut.

Idea yang ingin saya sampaikan melalui sajak tersebut ialah tentang REJI (Rohani, Emosi, Jasmani dan Intelek) iaitu item penting dalam pembentukkan modal insan yang seimbang selaras dalam penyataan FPK (Falsafah Pendidikan Kebangsaaan). Baik, pembentukkan modal insan itu biasanya bermula di rumah tetapi bukan semua ibu bapa yang mampu memberikan segala-galanya, jadi kewujudan institusi yang dipanggil sekolah boleh membantu ibu bapa untuk mendidik anak-anak mereka seterusnya merealisasikan hasrat negara dalam menghasilkan pelapis bangsa yang seimbang REJInya.

Untuk semua kawan-kawan blog dan juga pelawat blog TULUS DARI HATI  ini, sudi-sudilah komen sajak ini ya. Mana tahu ada penambahbaikan dari segi gaya bahasanya. Terima kasih.
SELAMAT MENEMPUH MINGGU BARU

Saturday, August 14, 2010

Sajak - Chairil Anwar

Saya SANGAT meminati sajak, walau saya bukan seorang penulis sajak yang baik dan aktif. Begitu juga dengan sejarah. Namun, jika saya nilai secara jujurnya, sajak sering menduduki rangking paling tinggi dalam peratusan minat saya, tapi selalunya kedua-dua minat ini akan mendapat layanan yang sama rata dalam hati. Ya, 50-50.

Saya suka membaca sajak orang lain, ya, sebagai pencetus idea dalam menghasilkan sajak-sajak baru. Begitu juga, saya meminati ramai penulis sajak terkenal seperti Usman Awang yang sinonim dengan sajak "Guru O Guru" nya. Namun kali ini saya tidak ingin membicarakan tentang Usman Awang, dia sudah cukup lekat dalam hati saya tetapi kali ini saya mahu "menghidupkan" kembali sajak-sajak nukilan chairil Anwar yang bagi saya agak misteri, seperti hasilnya. Ya, hampir kesemua sajak beliau (yang saya jumpa) saya agak minat tetapi saya sangat ingin tahu apakah sebenarnya yang penulis ini cuba ingin sampaikan dalam sajak bertajuk Di Masjid.

Kuseru saja Dia

sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka

seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya


Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda


Ini ruang
gelanggang kami berperang


Binasa membinasa
satu menista lain gila


Ya, saya telah lama merenung sajak ini, tetapi belum mampu menembusi akal fikirannya. Dia bagi saya, sangat berbakat dan misteri.

Sajak beliau yang bertajuk Penerimaan pula, bagi saya adalah sajak yang paling jujur dan indah dan sinis, yang beliau pernah hasilkan. Sungguh indah.

Penerimaan

Jika kau mau, kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri


Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani


Jika kau mau, kuterima kau kembali
Tapi untukku sendiri

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Sajak beliau yang bertajuk AKU, pula bagi saya satu sajak rasa kecewa yang paling dalam dan dari pembacaan saya, sajak ini mengisahkan kekecewaan Chairil Anwar terhadap bapanya yang telah mengabaikan dia dan ibunya. Tapi, walau dipalit dengan rasa kecewa, keindahan rangkaian kata dalam sajak ini masih lagi bersinar terang.

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar
Maret 1943


Siapa itu Chairil Anwar?  Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta. Usia Chairil singkat, beliau meninggal dunia pada tahun 1949 dalam usia 27 tahun. Namun dengan masa yang singkat itu, beliau meninggalkan banyak sumbangan dalam perkembangan kesusasteraan Indonesia.

Friday, July 2, 2010

KAU DAN AKU

Aku sudah lupa
suatu ketika dulu
kau datang
berdiri di muka pintu yang masih terbuka luas



pada saat hati masih keliru
kelabu dengan rasa bercampur
aku biarkan kau hadir dalam hatiku



Dengan senyum mu
Janji-janji mu
hiburan
Ya kau beri aku hiburan
warna warni hidup



kerap kali juga
warna itu akan kelabu
semakin pudar merahnya
harumnya seperti hilang seperti
mentari yang hilang pada senja hari



pada saat hati ingin kuat
tanpa warna mu
kau akan datang lagi, dengan merah cinta mu
dan
aku seakan hanyut
berkali-kali mencipta
ungkapan KAU dan AKU



kali ini
aku sudah serik
aku sudah bosan, dengan alasan mu
kerana setiap janji mu adalah bohong



KAU
jangan tega datang lagi
menunggu di muka pintu hati ku
kerana rapat-rapat aku sudah tutup



jangan datang menghulur kasih
yang merahnya hanya khayalan
jangan datang rapat lagi
menghulur rindu
kerana saat ini
rasa mesra sudah tidak ada
hanya yang tinggal
rasa benci berbaur dendam



dan
mungkin juga nanti
kita akan mampu mengeluh, mungkin tersenyum
kita akan tertanya
kenapa harus ada cerita KAU dan AKU
yang hanya meninggalkan DUKA.

Wednesday, March 24, 2010

Sekeping Hati Untuk Aku

Apakah mungkin aku telah
meletakkan rasa cinta dan sayang pada
seseorang yang salah?
pada seseorang yang hatinya bukan
sekeping untuk aku..

sesungguhnya,
aku mula rasa lelah
berjual beli dan berdagang cinta
membeli jiwa
kerap tawar menawar
harga pastinya mundur
apatah lagi
aku seorang wanita
produk yang biasa dinilai dari segi usia

 
Mungkin,
aku perlu rehat seketika dari pasaran cinta
demi mencari sekeping hati
yang hanya untuk aku
bukan perlu dibahagi dua atau tiga.



Berikan aku Mawar indah, hanya untuk aku..